Demokrasi Muskot KONI Manado di Persimpangan, Figur Berprestasi vs Kekuatan Lingkar Kekuasaan

oleh -382 Dilihat
oleh

MANADO, Onesiaa.com – Dinamika Pemilihan Ketua Umum KONI Manado periode 2025–2029 kian menghangat dan mulai mengundang tanda tanya publik. Dua figur yang kini mencuat ke permukaan, dr Richard Sualang dan Calvin Castro, hadir dengan latar belakang, rekam jejak, serta kekuatan dukungan yang sangat kontras.

Dari proses pendaftaran hingga pengembalian formulir, aroma pertarungan tidak lagi sekadar adu gagasan olahraga, tetapi mulai bergeser pada tarik-menarik kekuatan pengaruh.

dr Richard Sualang yang juga menjabat Wakil Wali Kota Manado tercatat sebagai pendaftar di Sekretariat KONI Manado, Gedung Youth Center Megamas, Jumat (9/12/2025) pukul 16.37 WITA.

Pendaftaran tersebut dikonfirmasi oleh Sekretaris Umum Perbasi Manado, Iswan Buka, yang menegaskan optimisme pihaknya terhadap visi dan misi Sualang dalam memajukan olahraga di Kota Manado.

Nama Richard Sualang sendiri bukan figur baru dalam dunia olahraga Sulawesi Utara. Ia memiliki rekam jejak panjang, dari dua kali membawa Manado juara umum Porprov secara berturut-turut, hingga sukses besar sebagai Ketua Umum Panitia Porprov Sulut November 2025 yang kembali mengantarkan Manado di puncak perolehan medali.

Tak hanya di level event, Sualang juga dikenal aktif memimpin dan membenahi sejumlah cabang olahraga di tingkat kota. Kepemimpinan yang ditunjang posisi strategis sebagai Wakil Wali Kota memberikan keunggulan dari sisi manajerial, jejaring birokrasi, hingga kesiapan finansial dalam menopang pembinaan atlet.

Dalam berbagai pernyataan, Sualang menegaskan tekadnya menyinergikan KONI dengan arah pembangunan olahraga yang kini sedang digeber Pemerintah Provinsi Sulut, terutama target masuk 10 besar PON 2028.

Namun, peta politik Muskot berubah signifikan setelah Calvin Castro mengembalikan formulir pendaftaran pada Jumat (6/12/2025) sore.

Yang mencuri perhatian publik bukan hanya jumlah dukungan 19 cabor yang diklaim dibawanya, tetapi juga iring-iringan figur-figur yang selama ini dikenal dekat dengan lingkar kekuasaan provinsi, termasuk sejumlah staf khusus gubernur dan tokoh politik.

Kehadiran mereka memunculkan spekulasi bahwa pertarungan ini tak lagi murni agenda olahraga, melainkan telah diselimuti kepentingan politik kekuasaan.

Di atas kertas, dengan total 37 hak suara, dukungan 19 cabor sudah cukup untuk mengunci kemenangan jika pemilihan digelar 10 Desember 2025 mendatang.

Sementara kubu Richard Sualang disebut baru mengantongi 9 dukungan. Namun situasi ini justru memantik kegelisahan banyak insan olahraga.

Pasalnya, figur Sualang dinilai jauh lebih kaya prestasi dan pengalaman dalam pembinaan olahraga dibanding lawannya.

Nama Calvin Castro sendiri menuai pro-kontra tajam di ruang publik. Di satu sisi, ia dikenal sebagai aktivis dan pencinta sepak bola yang pernah terlibat dalam prestasi PS Manado di level nasional. Namun di sisi lain, rekam jejak pribadi yang pernah terseret dalam pemberitaan viral beberapa waktu lalu membuat sebagian pelaku olahraga mempertanyakan kapasitas dan kelayakannya untuk memimpin organisasi sebesar KONI.

Meski demikian, dukungan politik yang kuat seolah mengerek posisinya menjadi sangat dominan dalam bursa Muskot.

Di sinilah demokrasi olahraga dipertanyakan. Ketika figur dengan prestasi konkret, legitimasi kepemimpinan, serta rekam jejak pembinaan atlet justru terancam terpinggirkan oleh kekuatan opini, penggiringan massa, dan manuver segelintir elite, muncul kekhawatiran bahwa kepentingan atlet dan cabor hanya akan menjadi korban dari birahi proyeksi kekuasaan.

Publik pun mulai bertanya, bagaimana mungkin figur dengan jejak keberhasilan yang jelas bisa “dicampakkan” hanya karena kalah dalam permainan pengaruh?

Kondisi ini terasa semakin ironis ketika di saat bersamaan Gubernur Sulawesi Utara tengah menggenjot pembangunan sarana prasarana olahraga dan mematok target prestasi PON 2028.

Secara logika pembangunan, momentum ini semestinya ditopang oleh figur yang matang secara pengalaman, kuat secara manajerial, dan memiliki kapasitas pembiayaan yang memadai.

Alasan-alasan inilah yang sejak awal menjadi dasar kuat Richard Sualang maju sebagai calon Ketua KONI Manado.

Namun realitas di lapangan justru menunjukkan arus yang berbeda. Gerbong dukungan yang mengelilingi Calvin Castro terlihat lebih bertenaga, bukan karena prestasi olahraga, melainkan karena kekuatan jejaring kekuasaan.

Situasi ini membuka ruang tafsir bahwa Muskot KONI Manado berpotensi menjadi arena uji coba pengaruh politik, bukan lagi semata-mata kontestasi gagasan pembinaan atlet.

Publik kini menanti, apakah KONI Manado akan tetap menjadi rumah besar olahraga yang lahir dari meritokrasi prestasi, atau justru berbelok menjadi panggung kompromi kekuasaan.

Di titik inilah peran pemilik suara, para pengurus cabang olahraga, benar-benar diuji: memilih berdasarkan rekam jejak dan masa depan atlet, atau tunduk pada tekanan dan arah angin politik sesaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.