Lorong-lorong Terang Benderang, Nico Tangapo Jawab Keluhan Masyarakat Pineleng Dua

oleh -230 Dilihat
oleh

MINAHASA, Oneesiaa.com – Guna menjawab keluhan masyarakat, Calon Hukum Tua Desa Pineleng Dua, Nicolaus Tangapo langsung gerak cepat memasang lampu penerangan di sejumlah lorong-lorong. Dimana, terlihat di sejumlah lorong di Desa Pineleng Dua kini tak lagi sama. Cahaya putih terang memantul di jalan-jalan kecil yang sebelumnya redup ketika matahari tenggelam.

Anak-anak masih terlihat bermain di depan rumah, beberapa warga duduk bercengkerama, sementara pengendara yang melintas tak lagi harus menebak arah jalan dalam gelap. Di balik cahaya itu, ada satu nama yang mulai sering diperbincangkan warga. Nikolaus Tangapo. Calon Hukum Tua Desa Pineleng Dua nomor urut 2 itu memilih melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi sangat dirasakan masyarakat.

Menariknya, Nikolaus tidak memilih lampu biasa. Ia menggunakan lampu premium merek Philips berdaya 50 watt. Baginya, penerangan bukan sekadar formalitas atau proyek sesaat. Ia ingin sesuatu yang tahan lama, kuat menghadapi cuaca, dan benar-benar bermanfaat dalam jangka panjang.

“Masyarakat membutuhkan penerangan yang baik. Kalau dipasang asal-asalan, cepat rusak, nanti masyarakat juga yang susah,” kata Nikolaus saat ditemui di sela pemasangan lampu.

Pilihan itu mungkin terlihat kecil dalam hiruk-pikuk politik desa. Tetapi justru dari kebutuhan sederhana seperti inilah masyarakat sering menilai ketulusan seorang calon pemimpin.

Sebab bagi warga di lorong-lorong desa, lampu jalan bukan hanya soal terang dan gelap. Ia berkaitan dengan rasa aman. Dengan kenyamanan pulang malam. Dengan orang tua yang tak lagi khawatir anaknya berjalan di jalan yang minim penerangan.

Di beberapa titik, warga mengaku baru benar-benar merasakan perubahan setelah lampu dipasang. Lorong yang sebelumnya sepi dan gelap kini terasa lebih hidup. Aktivitas malam perlahan bertambah. Bahkan beberapa warga mulai duduk lebih lama di depan rumah menikmati suasana yang lebih nyaman.

Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni mewah. Nikolaus datang bersama timnya, memasang lampu, memastikan titik penerangan berfungsi, lalu berpindah ke lorong berikutnya.

Pendekatan seperti itu membuat banyak warga melihat sosok Nikolaus bukan sekadar kandidat yang hadir saat momentum politik, tetapi figur yang mencoba memahami kebutuhan paling dasar masyarakat.

Di tengah kontestasi yang sering dipenuhi janji besar, langkah kecil seperti memasang lampu justru terasa lebih dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.

Ada filosofi sederhana yang tampaknya sedang dibangun Nikolaus Tangapo. Membangun desa dimulai dari hal-hal yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Karena terkadang, harapan tentang pemimpin tidak lahir dari pidato panjang di atas panggung. Tetapi dari cahaya kecil di lorong-lorong desa yang membuat masyarakat merasa diperhatikan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.